📞 (021) 8093008

Prof. Zudan: MTQ Bukan Sekadar Kompetisi, Tetapi Sarana Memupuk Nilai Integritas di Birokrasi

Kepala BKN Prof. Zudan menyampaikan pesan tentang MTQ dan integritas birokrasi

Jakarta, 24 Agustus 2026 — Badan Kepegawaian Negara (BKN) menegaskan pandangannya yang komprehensif tentang makna strategis Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dalam konteks pembangunan birokrasi Indonesia. Kepala BKN Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H. dengan tegas dan penuh keyakinan menyatakan bahwa kegiatan MTQ di lingkungan aparatur sipil negara memiliki dimensi yang jauh melampaui sekadar ajang kompetisi membaca, menghafal, dan memahami Al-Quran.

"MTQ bagi kami bukan event olahraga yang diukur dari berapa medali yang diraih. MTQ adalah momentum transformasi karakter — di mana ASN yang selama ini mengenal Al-Quran hanya sebatas teks, diajak untuk menghayatinya sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya kepada negara dan rakyat," ungkap Prof. Zudan dalam keterangannya.

Mengapa Integritas ASN adalah Kunci Segala-galanya

Sebelum memahami hubungan antara MTQ dan integritas birokrasi, penting untuk memahami mengapa integritas menjadi nilai yang begitu krusial bagi aparatur sipil negara. Dalam pandangan Prof. Zudan, integritas bukan hanya satu dari sekian banyak nilai yang harus dimiliki ASN — integritas adalah fondasi utama yang menopang seluruh bangunan pelayanan publik.

ASN yang tidak berintegritas akan cenderung menyalahgunakan wewenang, korup, tidak transparan, dan pada akhirnya mengkhianati kepercayaan yang diberikan rakyat melalui negara kepadanya. Sebaliknya, ASN yang berintegritas tinggi akan menjadi pelayan publik yang jujur, amanah, dan tulus dalam mengabdi — tanpa harus diawasi setiap saat karena pengawasan terbaik ada pada nuraninya sendiri.

"Kita bisa membangun sistem pengawasan yang canggih, memasang CCTV di mana-mana, membuat regulasi yang berlapis-lapis. Tapi kalau nuraninya kosong, semua itu bisa ditembus. Yang paling efektif adalah ketika ASN punya kontrol internal yang kuat — dan itu hanya bisa datang dari fondasi spiritual yang kokoh," tegas Prof. Zudan.

Al-Quran sebagai Panduan Etika Pelayanan Publik

Prof. Zudan kemudian menjelaskan bagaimana Al-Quran, sebagai kitab suci umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia, sesungguhnya mengandung panduan etika yang sangat relevan dengan tugas-tugas seorang pelayan publik. Nilai-nilai seperti amanah (trustworthiness), adil (justice), syura (musyawarah), dan mas'uliyah (akuntabilitas) adalah nilai-nilai Al-Quran yang selaras dengan prinsip-prinsip good governance modern.

"Ketika seorang ASN membaca ayat tentang amanah, tentang larangan khianat, tentang kewajiban berbuat adil, dan ia benar-benar memahami maknanya — itu akan berdampak pada cara ia bekerja. Ia akan takut untuk korup bukan karena takut tertangkap, tetapi karena ia yakin bahwa setiap perbuatannya disaksikan oleh Yang Maha Melihat," papar Prof. Zudan.

MTQ sebagai Program Pembangunan Karakter yang Terstruktur

Dalam pandangan BKN, MTQ di lingkungan birokrasi — baik di tingkat instansi, nasional KORPRI, maupun seluruh jenjang lainnya — adalah program pembangunan karakter yang terstruktur dan masif. Ini bukanlah program sekali jalan yang selesai setelah piala dibagikan, melainkan proses panjang yang dimulai jauh sebelum hari H perlombaan dan terus bergulir setelahnya.

Proses seleksi dan persiapan mengikuti MTQ, misalnya, mengharuskan calon peserta untuk secara intensif berinteraksi dengan Al-Quran — membaca dengan benar (tajwid), menghafal, memahami terjemahan dan tafsir, serta mempelajari sejarah dan konteks turunnya ayat-ayat tertentu. Proses ini, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, adalah proses pendidikan nilai yang dalam dan menyeluruh.

Integrasi MTQ dengan Program Pengembangan ASN

BKN sedang mengkaji kemungkinan untuk mengintegrasikan kegiatan MTQ — atau setidaknya elemen-elemen nilai yang terkandung di dalamnya — ke dalam program pengembangan ASN yang lebih sistematis. Ini bisa berbentuk modul pelatihan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran kepemimpinan, atau program pendampingan (mentoring) yang mengaitkan antara pengembangan kapasitas profesional dengan pembangunan karakter spiritual.

"Kami tidak ingin MTQ menjadi kegiatan yang terpisah dari mainstream pengembangan ASN. Kami ingin nilai-nilai yang dipupuk dalam MTQ mengalir masuk ke dalam sistem training, coaching, dan mentoring yang kami miliki," ujar Prof. Zudan.

Tantangan: Menjaga Semangat Pasca MTQ

Salah satu tantangan terbesar yang diakui Prof. Zudan adalah bagaimana mempertahankan semangat dan nilai-nilai yang terpupuk selama rangkaian kegiatan MTQ agar tidak menguap begitu saja setelah event berlalu. "Euforia MTQ berlangsung beberapa minggu. Tapi dampak yang kita inginkan adalah perubahan perilaku yang berlangsung seumur hidup," ungkapnya.

Untuk menjawab tantangan ini, BKN berencana mengembangkan program tindak lanjut (follow-up) yang dirancang khusus untuk membantu peserta MTQ — dan ASN yang terinspirasi oleh event tersebut — untuk terus menjaga dan mengembangkan nilai-nilai spiritual dan moral yang telah mereka bangun.

Pesan untuk Seluruh ASN Indonesia

Di akhir keterangannya, Prof. Zudan menyampaikan pesan yang ditujukan kepada seluruh ASN Indonesia, baik yang terlibat langsung dalam MTQ maupun yang tidak:

"Jadilah ASN yang takut berbuat salah bukan karena takut kamera pengawas atau takut inspektur. Jadilah ASN yang takut karena memahami bahwa setiap jabatan dan wewenang yang dipegang adalah amanah yang akan diminta pertanggungjawabannya. Itulah integritas sesungguhnya — dan itulah yang Al-Quran ajarkan kepada kita semua."

Pernyataan ini menjadi penegasan yang kuat bahwa dalam perspektif BKN di bawah kepemimpinan Prof. Zudan, MTQ bukanlah sekadar hiasan dalam kalender kegiatan instansi pemerintah. MTQ adalah bagian dari strategi besar BKN dalam mewujudkan birokrasi Indonesia yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual — sebuah birokrasi yang benar-benar melayani rakyat dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan sepenuh amanah.

Dengan menjadikan MTQ sebagai sarana pembangunan integritas yang nyata dan terukur, BKN berharap Indonesia dapat memiliki aparatur sipil negara yang tidak hanya membanggakan secara profesional, tetapi juga menjadi teladan akhlak dan moralitas bagi seluruh lapisan masyarakat yang mereka layani setiap harinya.

Bagikan: